Senin, 23 April 2012

Powered by Calendar Labs

tafsiran umur dan berat badan sapi


TAFSIRAN UMUR DAN BERAT BADAN



A . TUJUAN PRAKTIKUM
  • Untuk mengetahui umur ternak dengan tafsiran
  • Untuk mengetahui berat badan ternak tanpa menggunakan alat bantu
  • Untuk pemeliharaan ternak yang baik

B. METODE
Materi :
  • Sapi
  • Kambing/domba
  • Tali
  • Mistar/meteran

C. DASAR TEORI
1. Tafsiran umur
a.    Melihat dari akta kelahiran
Cara ini merupakan yang paling akurat dan diyakini kebenaranya karena umurnya sudah jelas tanggal lahirnya.
b.   Banyaknya keausan gigi
banyaknya keausan gigi merupakan pertanda bahwa hewan ternak itu semakin tua
c.    Pergantian bulu
Pergantian bulu terjadi apabila masih muda dan masih dewasa
d.   Kekeringan tali pusar
Semakin kering tali pusar pertanda bahwa hewan tersebut semakin tua
e.    Dengan melihat cincin lingkar tanduk
Tafsiran dengan metode lingkaran tanduk hanya dapat digunakan pada sapi dewasa, maka perlu dilengkapi dengan tafsiran metode gigi sapi. Prinsip dalam menafsir umur dengan melihat cincin tanduk :
·      pada sapi betina : normalnya sapi betina beranak 1 tahun sekali, sehingga kita dapat menafsir umur dengan menghitung jumlah lingkar tanduk ditambah 4 tahun
·      pada sapi jantan dapat dihitung jumlah lingkar tanduk ditambah 5 tahun
2. Tafsiran Berat Badan
  Berat badan dapat dihitung berdasarkan panjang dan lingkar dada
·         Lingkar dada dihitung melingkari dada pada sternum 3-4 dibelakang siku kaki depan
·         Panjang badan dihitung dari scapula sampai coxae
·         Rumus shelfer berat badan (  w  ) adalah

L x G
  30
W        : berat badan ( Kg )
G         : lingkaran dada ( inchi )
L          : panjang badan ( inchi )

·         Rumus lambaurne berat badan ( W ) adalah

L x G2
10400
W        : berat badan ( Kg )
G         : lingkar dada (inchi )
L          : panjang badan

·         Rumus school berat badan adalah

( L x 22 )2
    100
W        : Berat badan
L          : panjang badan

D. HASIL PRAKTIKUM

  1. Penafsiran Umur Pada Sapi
-          Mengukur lingkaran dada dan panjang badan serta menafsirkan beratnya  menggunakan rumus :
·         Shelfer
·         Lambaurne
·         School
-   Menafsirkan komposisi gigi dan tafsiranya
A.    Penafsiran umur pada sapi
a.       Gigi
Kami memeriksa gigi pada pedet, giginya berjumlah empat pasang.Maka, perkiraan kami umur pedet tersebut kurang dari satu tahun. Lalu kami melanjutkan pemeriksaan gigi pada kambing
Jumlah gigi kecil      : 1
Jumlah gigi sedang   : 2
Jumlah gigi besar      : 2
Perkiraan umur kambing tersebut adalah 1-1,5 tahun
B.     Penafsiran berat badan pada sapi
a.       Sapi desibell
G ( lingkar dada )     : 1,2
L ( lingkar badan )   : 1,2
b.      Berat badanya adalah
                                                                    i.      Metode schifer
L x G    = 120 x 120  = 48 pound
   30                 30
                                                                  ii.      Metode lambourne

L x G2  = 120 x 1202  =  166,154 pound
10400          10400



                                                                iii.      Metode schrool

( G + 22 )2  =  ( 120 + 22 )2  = 201, 64 pound
     100                   100

E. PEMBAHASAN

            Penafsiran Umur Gigi
Jika kita tidak mempunyai catatan kelahiran, maka catatnan akurat lainya adalah dengan melihat perubahan pertumbuhan gigi, hal ini bisa demikian karena pertumbuhan dan pergantian gigi umumnya teratur.
Menurut peertubuhanya gigi dibedakan menjadi :
·         Gigi sulung ( gigi sisa ) : gigi yang tumbuh pada saat usia masih muda dan gigi mulai mengalami pergantian.
·         Gigi tetap : gigi ini merupakan pengganti dari gigi susu, dan gigi ini tidak akan mengalami pergantian lagi.

Menurut letak dan fungsinya gigi dapat dibedakan :
·         Gigi seri ( dens incisivus ) : untuk menggigit dan mengerat
·         Gigi taring ( caninus ) : berguna untuk memotong atau mengoyak serta menyobek
·         Gigi geraham ( premolar ) : untuk mengunyah dan melumat serta menggilas
·         Gigi geraham ( molar ) : untuk mengunyah dan melumat serta menggilas
Karena dalam praktikum yang ditaksir umurnya adalah sapi dan kambing, maka yang akan dibahas adalah gigi kambing
Dexter                                                 Sinister
M         P          C         I                       I           C         P          M
3          3          0          0                      0          0          3          3


3          3          0          4                      4          0          3          3
        Pada usia satu bulan anak kambing yang baru lahir mempunyai dua buah gigi seri dan pada usia tersebut semua gigi seri tengah telah lengkap . pergantian gigi susu menjadi tetap pada gigi inchisivus
            Pergantian 11 : 1, 25 tahun
            Pergantian 12 : 1, 25 tahun

F. KESIMPULAN

        Dari uraian dan hasil praktikum tersebut kita dapt mengambil kesimpulan bahwa, penentuan tafsiran umur dan berat badan merupakan sesuatu yang mudah apabila kita tahu rumus dan cara-caranya, sehingga dalam beternak hewan tidak merugi.


PEMERAHAN SUSU DAN TEST MASTITIS


A. TUJUAN PRAKTIKUM
  • Untuk mengetahui cara-cara pemerahan susu yang baik
  • Untuk mempelajari cara-cara mengetahui kandungan penyakit yang ada didalam air susu, seperti mastitis

C.    METODE

            Bahan :
  • Sapi perah
  • Susu sapi

       Alat :
  • Ember penampung susu
  • Sikat, sabun, air dan selang untuk membersihkan sapi
  • Minyak kelapa
  • Gelas ukur
  • CMT ( california mastitis test )
  • Alkhohol
  • Cawan dasar hitam
  • Kain lap

D.    HASIL PRAKTIKUM

            Mejemen Susu
  1. Memandikan dan mencuci ambing sampai bersih dengan sabun
  2. Bersihkan ambing dengan kain lap
  3. Ikat ekor sapi
  4. Tangan pemerah dicuci dan diberi pelicin ( minyak kelapa )
  5. Letakan ember dibawah puting susu dan diantara kedua paha
  6. Mulai memerah filsir pangkal puting dengan melingkar jari telunjuk berpangkal puting dan tekan sampai keras
  7. Buang pancaran pertama dan kedua, perhatikan !
  8. Tuntaskan pemerahan dengan menyurut ambing 2-3 kali
  9. Celupkan ujung ambing kedalam cairan antiseptik
  10. Saring air susu dengan kain saring yang bersih, takar dan catatlah produksi susu tiap ekor sapi perah
  11. Jumlah produksi susu sehari untuk satu ekor sapi

Test Mastitis
  1. Dengan cawan dasar hitam
Hasil pemerahan yang pertama dan kedua diletakan kedalam cawan, kemudian diamati. Bila terdapat jendalan atau susu berwarna merah, maka kemungkinan sapi terkena mastitis. Susu perahan ini sebaiknya dibuang.
  1. Dengan alkhohol
Dengan pengujian sama dengan pengujian cawan dengan A untuk puting kiri depan, B puting kiri belakang, C puting kanan depan, D puting kanan belakang. Kemudian ditambahkan alkhohol kedalam susu dan susu diamati. Bila terjadi penjendalan kemungkinan sapi terkena mastitis


  1. Dengan CMT ( california mastitis test )
Cara pengujian ini sama dengan pengujian alkhohol, jendalan yang terbentuk bila susu terkena mastitis berwarna merah

D. PEMBAHASAN

  1. Menejemen Susu
    1. Persiapan
Sapi yang hendak diperah harus dalam keadaan tenang, untuk itu sebaiknya diberi makan terlebih dahulu dan dicegah kedaan gaduh disekitarnya. Persiapan dapat pula dilakukan dengan mengikat sapi lebih ketat agar sapi diam ketika sedang diperah. Bagi pemerah, hendaklah membersihkan tangan terlebih dahulu sampai bersih dan mempersiapkan alat-alat untuk memerah, seperti ember, minyak kelapa dan lain-lain.
    1. Pembersihan
Pembersihan meliputi pembersiahan sapi dan sekitar kandang, ketika akan dilakukan pemerahan tempat sapi harus bersih. Sebab air susu mudah menyerap bau-bauan yang dapat menurunkan kualitas air susu. Pembersiah sapi dilakukan dengan memandikan sapi atau membersihkan bagian ekor, ambing, perut, dan bagian kaki belakang sapi.
    1. Pemerahan
Sebelum melakukan pemerahan, sebaiknya ekor sapi diikat untuk menghindari masuknya kotoran saat sapi mengibaskan ekornya. Olesi puting dan tangan dengan minyak kelapa untuk menghindari luka pada puting saat pemerahan. Memulai pemerahan fiksir pangkal puting dengan melingkarkan jari telunjuk berpangkal puting dan tekan sampai kertas atau tempat tersebut diantara ujung ibu jari yangdilipat dengan jari telunjuk, tekanlah bagian bawah puting dengan tiga jari lainya bebas, maka susu akan memancar, lakukan test mastitis pada pancaran pertama, kedua pada susu perahan tersebut, arahkan pancarab selanjutnya keember susu. Setelah selesai memerah, celupkan puting kedalam cairan antiseptik, alkhohol 70% untuk mencegah penyakit seperti mastitis.
    1. Penakaran
Setelah susu selesai diperah, masukan kedalam kaleng susu dengan disaring memakai kain saring yang menggunakan gelas ukur per liter. Catatlah produksi susu sehari untuk tiap ekor sapi agar diketahui produktifitas sapi tersebut.
    1. Pengemasan
Pengemasan susu dilakukan dengan menggunakan plastik, diikat dan dieratkan. Susu segar yang bersi dapat bertahan pada suhu kamar selama 12 jam setelah dikemas.

  1. Test Mastitis
Air susu dapat dikonsumsi secara teratur langsung ataupun dilakukan proses pasturisasi terlebih dahulu. Pengujian air susu segar ditinjau dari :
·         Segi fisik, warna, bau, dan rasa
·         Segi kimiawai asam dan basa
·         Segi microbialis, dengan uji matilen blue
Susu yang berkualitas adalah susu yang memenuhi syarat pengujian mutu diatas, yaitu berwarna putih, tidak terlalu kental atau tidak terlalu encer, bau tidak anyer atau basi, rasa agak hambar yaitu tidak asam maupun pahit, tidak mengandung bibit penyakit yang berbahaya, tidak berbau dan sebagainya.
Test mastitis dilakukan dengan menggunakan alkhohol atau CMT. Air susu pancaran pertama dan kedua ditampung dalam cawan, lalu ditetesi alkhohol atau CMT pada ambing, bila terjadi penjendalan ada kemungkinan :
·         Sapi mengalami infeksi pada ambing
·         Sapi kekurangan makanan
·         Kadar Ca susu berlebihan

Macam-macam mastitis :
1.      Mastitis cronis
·         sering menyerang sapi yang lebih tua
·         dari luar tidak kelihatan kalau sapi terserang penyakit mastitis
2.      Mastitis akud
Pengobatan pada penyakit mastitis :
1.      mastitis akud
Suntikan procanpinicilitin pada hiyoroftroptynonya 200 ml berat badan tiap hari.
2.      Sulfanitrazing 120 mg per berat badan ( malalui mulut ) dilanjutkan dengan 60 mg oxytetracidinx mastiti oement
             Pencgahan mastitis dilakukan dengan cara :
1.      Menjaga kebersihan kandang ternak dan peralatan kandang
2.      mencuci tangan sampai bersih ketika akan memerah dan diolesi minyak untuk mencegah luka pada ambing
3.      pemerah tidak memakai cincin saat memerah
4.      sapi dalam keadaan sehat tenang
5.      kuku pemerah harus pendek, agar tidak melukai ambing saat memerah
6.      sapi diberi makan yang cukup agar kesehatanya baik sehingga tidak mudah terserang penyakit

E. KESIMPULAN
        Pemerahan yang baik dan benar perlu dipelajari karena dengan pemerahan yang baik dan benar akan meningkatkan jumlah susu yang diperoleh. Juga akan menghasilkan susu yang lebih banyak dan segar kerana didukung dengan test mastitis pada susu yang dihasilkan.












DAFTAR PUSTAKA


  • Soeprapto, Ir. Heri, MP; Ir.zainal. abidin. Cara tepat penggemukan sapi potong; jakarta ;agro media pustaka.2006.
  • Zein syarif, Ir.M;R.M. sumoprastowo C.D.A. Ternak perah. Bogor : yasaguna.1990

Jumat, 20 April 2012

D3 VETERINER ANIMALNIAC: SEPUTAR ZOOTEKNIKRESTRAIN DAN CASTING        ...

D3 VETERINER ANIMALNIAC: SEPUTAR ZOOTEKNIK



RESTRAIN DAN CASTING
        ...
: SEPUTAR ZOOTEKNIK RESTRAIN DAN CASTING                                                        TUJUAN PRAKTIKUM “Restrains dan ca...
SEPUTAR ZOOTEKNIK



RESTRAIN DAN CASTING

                                                    
 TUJUAN PRAKTIKUM
“Restrains dan casting”yang akan kita bahas kali ini bertujuan untuk :
  1. Dapat mengetahui dan menguasai cara-cara merestrain ataupun mengcasting hewan
  2. mempraktekkan teori restrain dan casting yang telah diberikan agar lebih mengerti dan trampil
  3. dapat melakukan restrain dan casting secara benar dan tepat sehingga tidak membahayakan bagi pelaku maupun hewan yang dijadikan obyeknya

 DASAR TEORI
Restrain adalah menghalangi gerak/aksi dari hewan sapi sehingga dapat menghindari/mengurangi bahaya untuk dokter hewan, asisten maupun sapi itu sendiri. Bahaya tersebut dapat berupa sepakan, desakan, injakan dari sapi pada waktu sapi akan diperiksa kesehatannya , dilakukan pemeriksaan, pengobatan, dioperasi, dibersihkan, maupun pada waktu akan diperah. Bahaya atau resiko untuk sapinya sendiri dapat berupa luka benturan karena sepakan yang mengenai dinding kandang yang tajam atau keras seperti paku, potongan kayu dan lain sebagainya yang dapat menyebabkan luka memar atau tergores dan pendarahan sampai patah tulang.
Metode restrain ada bermacam-macam dan sangat tergantung pada cara penanganan yang baik adalah penanganan yang lembut tetapi tegas. Dalam melakukan restrain haruslah tenang, percaya pada kemampuan, tidak ragi-ragu, waspada, dan tidak sembarangan. Sebelum bertindak haruslah merencanakan metodenya serta menyiapkan peralatannya.
Restrain untuk mengalihkan perhatian sapi disini dilakukan tindakan atas perlakuan pada sapi sampai  menimbulkan rasa sakit yang bersifat sementara sehingga perhatian sapi mengarah pada rasa sakit tersebut dan selama itu tindakan pengobatan dan pemeriksaan dapat dilakukan.
Macam-macam restrain:
1.      restrain ekor
2.      restrain hidung
3.      restrain telinga
4.      restrain kaki depan
5.      restrain kaki belakang
6.      restrain kastrasi
7.      restrain dekorning
Casting adalah menguasai hewan dengan cara merebahkan hewan tersebut.
Syarat-ayarat melakukan casting adalah:
1.      berhati-hati, jangan sampai melukai sapi
2.      tempat cukup lapang, rata, empuk, dan jauh dari pepohonan, tembok, batu/benda lain yang membahayakan. Alas dibuat dari jerami kering/rumputyang kering, usahakan di tempat yang teduh.
3.      tali yang digunakan cukup besar dan panjang kurang lebih 10 m
4.      sediakan tenaga manusia 4-5 orang, satu untuk mengarahkan jatuhnya sapi, sedangkan yang lain sebagai penarik tali
5.      setelah sapi rebah, cepat dikuasai agar tidak berusaha berdiri kembali
6.      pada sapi bunting sebaiknya jangan dilakukan
 
  MATERI
Alat dan Bahan :
1.sapi
2.domba/kambing
3.tali untuk keluh
4.tali besar untuk casting
5.penusuk lubang keluh
6.spluit dan jarum suntik

 METODE
Cara kerjanya adalah :
  1. menyediakan tali yang akan digunakan.
  2.  menyiapkan sapi yang akan dipakai untuk percobaan.
  3. sapi dituntun dengan memegang tali keluh kemudian ditali atau diikat di tiang penyangga.
  4. mengalihkan perhatian sapi untuk mengangkat kaki depan yang akan dilakukan pemeriksaan atau pengobatan.
  5. sapi diikat pada bagian pangkal kakinya untuk mengangkat kaki belakang dan selanjutnya dilakukan pemeriksaan dan pengobatan pada kaki sapi dan bila perlu kuku sapi dipotong.
  6. merebahkan sapi dengan cara memasang tali manila pada badannya, perebahan pada sapi dewasa ini memerlukan tenaga orang sebanyak 2 atau 3 dan tarik, arah tarikan mengikuti arah gerak sapi. Setelah sapi jatuh satu orang menindih kepala sapi dan satu lagi menindih bahu sapi dan yang lain menarik tambang agar sapi tidak mudah bangun kembali.
  7. salanjutnya dilakukan pengikatan pada kaki depan dan kaki belakang, kemudian ikatan pada kaki sapi depan dan belakang disatukan agar mempermudah pengobatan, pemeriksaan, dan operasi.
  8. selanjutnya merobohkan sapi pedet yang berumur enam bulan, caranya sama seperti sapi dewasa, tetapi pada sapi pedet tali yang digunakan untuk mengikat badan adalah tali tambang yang agak besar dan panjang.
  9. setelah sapi pedet roboh barulah dilakukan pemasangan tali keluh dengan cara menusuk septum nasi dengan penusuk lubang teluh.
  10. tali dimasukkan bersamaan dengan penusuk secara perlahan dan diikat pada sapi pedet.
  11. setelah tali keluh dipasang tali yang diikat pada keempat kaki pedet dilepaskan secara perlahan kemudian pedet didirikan dan dibawa kembali ke kandang.

HASIL PRAKTIKUM
A. Restrain Hidung Dan Casting Rebah Dorsal
Pada praktikum yang dilaksanakan, menggunakan sapi yang masih muda, untuk dipasang tali keluh agar menjadi sapi yang mudah dikendalikan. Selain melakukan restrain hidung, kita juga melakukan casting rebah dorsal.
B. Casting Rebah Ventral
Pada praktikum ini dilaksanakan casting rebah ventral sebelah dexter pada sapi, sapi yang akan direbahkan , sebelumnya dipasang dengan tali terlebih dahulu, baru kemudian direbahkan.
C. Perhitungan Pulsus Sapi
Perhitungan pulsus dilakukan dengan memegang pangkal ekor sapi, untuk sapi yang jumlahnya normal yaitu: 64 kali permenit.
D. Pemeriksaan Kesehatan Dengan Memeriksa Mata Dan Mulut Sapi
Pemeriksaan kesehatan dengan memeriksa mata dan mulut sapi, maka sapi yang diperiksa terlihat jernih dan tidak terdapat banyak  meradang, hal ini menenjukkan bahwa mata sapi dalam kondisi yang baik. Pada pemeriksa mulut, mulut dibuka dan diamati bagian dalam mulutnya antara lain gigi, lidah, dan bagian rongga mulut, tidak memperlihatkan adanya kelainan, yang berarti semua Dalam Kondisi Baik.
E. Membuat Tali Leher
      Pada pembuatan tali halter ini bertujuan untuk menali sapi yang belum dikeluh, lingkaran depannya pas pada moncong sapi dan lingkaran belakang atau yang agak lebar dipasang pada leher sapi.


G. Membuat Tali Kendali
Tali dibuat agar mempermudah untuk mengendalikan sapi dan tali kendali dibuat dengan cara: pertama-tama sapi yang akan dipasang tali kendali dipersiapkan. Mempersiapkan tali tambang yang agak besar selanjutnya tali dipasang pada sebagian badan sapi, lalu kedua ujung tali tambang dimasukkan lewat selangkangan pada sapi dan dan 3 dan 4 orang untuk menarik tali belakang dan kurang lebih sekitar 2 orang untuk menarik kaki belakang. Tali belakang ditarik mengikuti arah gerak sapi.
H. Merebahkan Sapid An Domba
Pada sapi: Sapi direbahkan ke arah dorsal ataupun ventral. Disiapkan tali manilla dan tali tambang kecil terlebih dahulu. Panjang tali manilla kurang lebih 10 meter. Tali tambang kecil untuk penalian pada kaki sapi. Panjang tali tambang kecil kurang lebih 2 meter.
Pada kambing: saat merebahkan kambing, tidak memerlukan tali manilla atau tali tambang karena tubuh kambing lebih kecil, perebahan pada kambing cukup dipegang kedua kakinya dan ditarik secara perlahan dan jangan sampai membuat kambing tersebut cidera.
I. Mengangkat Kaki Depan Dan Belakang Pada Sapi
Pengangkatan kaki pada sapi yang pertama dilakukan adalah pengangkatan pada kaki depan dan baru kemudian pengangkatan pada kaki belakang . pengangkatan kaki belakang dilakukan dengan bantuan tali manilla. Tujuan dilakukan pengangkatan sapi untuk pemeriksaan atau pengobatan. Selain itu juga memudahkan peternak membersihkan kuku sapi yang harus dilakukan secara rutin.  

PEMBAHASAN

  1. Restrain Hidung dan Casting Rebah Dorsal
Pada restrain hidung kita melakukan pada sapi yang masih muda untuk pemasangan tali keluh.Hal ini dimaksudkan agar sapi lebih mudah dikendalikan. Sebelum melakukan restrain hidung,kita terlebih dahulu membuat tali untuk menjinakkan sapi tali yang dimaksud di sini juga tali kejahatan. Tali kenur atau tambang kemudian dililitkan di bagian leher kemudian dilewatkan pada bagian ketiak atau axillaries lalu tarik tali ke atas ke bagian thoraco lumbal dan dililitkan,kemudian tarik ke bawah ke bagian axillaries kaki belakang dan dilewatkan diantara ambing. Tali yang tersisa dipegang dan ditarik dari arah belakang ternak. Dalam proses ini diperlukan paling tidak empat orang untuk memudahkannya.


B.Membuat Tali Kendali.
Tali kendali dibuat pada sapi yang berusia sekitar enam bulan. Pembuatan tali kendali bertujuan untuk mempermudah pengendalian pada sapi. Yang harus dipersiapkan adalah:
·      tali kambing agak besar ; dengan panjang ≤10 m
·      tali tambang kecil; dengan panjang ≤ 2 m
·      beberapa orang untuk membantu merebahkannya
·      sapi yang masih muda yang belum dipasang tqali kendalinya
setelah persiapan selesai barulah kita memasang tali tambang yang agak besar ke badan sapi tersebut dan kedua ujung tali dimasukkan ke kanan-kiri selangkangan dan kemudian tambang ditarik bagian dan belakang,penarik pada bagian belakang hendaknya mengikuti gerak sapi.
Setelah rebah dorsal/jatuh barulah keempat kaki pada sapi di tali dan selanjutnya pencoblosamn/pemasangan tali kendali,pemanjangan pada tali kendali di gunakan.dua cara: di tusuk hidung sapi dengan bamboo runcing di sela satu ujungnya dan tali di gabung/ di jadikan satu bambuakan di buat menusuk hidig. Cara lain dengan trokat yang di tusukan ke dalamhiding setelah itu tambang baru di masukan secara perlahan.
C. Restrain Ekor
Rastrain ini biasanya di gunakan oleh para pekerja kandang,asiste,dokter hewan, yang memerlukan pengalihan perhatian karena merasa sakit pada tulang/ekornya. Tindakan ini pada saat melakkan pengobatan,suntikan intramuskuler,yang mengangkat. Ekor sapi harus berdiri sendirisekitar di belakang sapi untuk menghindari sepakan sapi.
D. Rastrain Mencigah Sepakan
Rastrain ini menggunakan alat yang di sebut dengan happles.cara inibanyak di sukai karna dangan cepat memeakainya dan cepat melepaskan juga efektif dalam melindungi bahaya sepakan.alam berupaka lempengan sapi yang ada lubangnya di selah satu sisi,lempenga lain di beri rantai yang dapat di masukan pada lempenga yang alin. Alat di pakai pada kaki belakang,dan rantai di keraskan sampai lempeng besi menekan tendo aciles.
E. Mengangkat Salah Satu Kakai Depan
   Hal ini mengakibatkan seperti berdiri dangan tiga kaki,. Kalau di butuhakan waktu yang lama untuk memeriksa/pengobatan maka harus menggunakan tali, yang di ikatkan pada pastum,bagian kaki di atas kuku, untuk memprmudah sapi di dorong sapi dari sampingdan saat itu sapi di tarik maka kaki akang di angkat.


F. Mengangkat Kaki Belakang.
Di gunakan untuk pngobatan,pemeriksaan kuku. Epkerjaan mengangkat harus memmpunyai keberanianyang cukup kuat dan tidak ragu-ragu, caranya badan menghadap ke belakng badan sapi,lengan menempel paha sapi sebelah kiri , tangan kiri memengan posterior kak kiri sapi kaki di dorong dengan kuat oleh badan kita ke damping dan pada saat sapi itu goyah kaki sederet diangakat dan diletakan pada paha kita kemudian telapak kaki di bersihkan dan selanjutnya di lakukan pemerikasaan dn pengobatan.
G. Rastrain Iuntuk Kambing Dan Domba
Untuk meresrain kambing atau domba di lakukan dengan cara merasrtrai kakinya pada tendo acilesh. Apabila pada tendo acilesh  di penggang maka tendo tersebut tidak berkontraksi. Jangan menengka domba pada pirsendihan atau palang. Usahakan kaki yang terangkat adalah kaki bagian belakang. Setelah tertangkap kakinya kita berada di samping kanan kambing.
H. Casting Pada Domba Dan Kambing
a.       Pegang tali dengan domba dan tubuh kita berada disisi domba.
b.      Kemudian pegang kaki dengan tangan kanan sedang tangan kiri memegang leher atau kepalanya. Dorong kepala perlahan-lahan kearah samping.
c.       tangan kanan pindah ke kaki belakang yang satunya dan kaki kiri pindah posisi memegang kaki depan sebelah dexter dari bagian dalam dan tarik kaki belakang kea rah kita maka domba akan roboh kea rah dexter.
d.      setelah ambruk, kita maju selangkah usahakan jangan lepaskan pegangan pada sapi.
I. Cara Rebah Tengah Pada Sapi.
a.       casting pada sapi diawali dengan mengikat tali dengan diameter ± 20m yang di lewatkan dari leher sapai tubuh sapi terus ke belakang.
b.      Restrain ini tidak perlu menekan atau berlebihan pada daerah thorax sehingga tidak mengganggu hati dan paru-paru.
c.       Restrain tidak merusak alat genital dan glandula mamae.
d.      kemudian seseorang menarik tali itu dari depan sedangkan yang lain menarik tali yang berada di belakang kea rah belakang dan tarik dengan kuat sampai sapi ambruk.
e.       pengikat sapi yang telah dirobohkan dimasukkan agar posisi sapi tidak berubah sehingga memudahkan dalam penanganan.
J. Cara Roboh Samping Pada Sapi
  1. casting pada sapi diawali dengan mengikat leher sapi dengan tali yang dililitkan ke tubuh sampai ke belakang (dengan ikat leher)
  2. usahakan tali tidak merusak organ genital dan glandula mamae
  3. seseorang menarik tali dari depan sedangkan yang lain menarik dari belakang sampai sapi ambruk (seperti roroh tengah).
  4.  setelah sapi ambruk tengah dorong sapi ke arah dexter.
  5. jangan lepaskan pegangan agar sapi tidak berdiri lagi.
  6.  setelah itu kedua kaki diikat dengan tali baik kaki depan maupun kaki bagian belakang untuk mempermudah penanganan.
































DAFTAR PUSTAKA


  1. AAK.1995.Beternak Sapi Perah.Kanisius.Jakarta
  2. Sosroamidjojo, dan Soeraji.1984.Peternakan Umum.Yasaguna.Jakarta
  3. Sumoprastowo.Ternak Piaraan.Bharata.Jakarta